"Wortel rasanya lebih enak" Kelinci putih mengibaskan kepalanya yang dipenuhi bulu lembut. Siapa yang tidak gemas padanya ? Ia tampan, bersih dan tampak terawat. Senyumnya pun yang bergigi sulang dua juga menggoda.
Ia melompat kesana - kemari dengan congkakya. Rumput - rumput layu yang terserak di hadapannya diacuhkan. Melihat pun enggan.
" Tapi rumput juga enak. Dijamin Kau tidak akan lapar lagi. Coba cicipi dulu" Kelinci abu - abu ikut melompat di belakang kelinci putih Tapi ternyata nasibnya sama seperti rerumputan. Diacuhkan.
Memang sih bulu abu -bunya tidak begitu menarik, tidak rapi, tidak juga bersih. Matanya sayu karena sering kurang makan. Tapi lompatannya tidak kalah lincah dengan si putih. Hanya itu yang bisa Ia banggakan. Tapi selain itu Ia juga kelinci yang baik hati. Buktinya Ia telah bersedia menolong kelinci putih yang tersesat di tengah hutan.
"Kau tahu kalau itu bukan seleraku? Aku hanya ingin wortel"
"Tapi hanya ini yang aku punya
Jumat, 16 Oktober 2009
Kamis, 15 Oktober 2009
Nyanyian Perahu Tua
Gerimis menggantung
Di kelopak mata nan sendu
Ketika masa masih bernyanyi
Sumbang...
Taman-taman persegi kering
Menguning karena tak diairi
Pemberian Ia,
Pada kita
Sementara,
Cawan - cawan kenikmatan
Disuguhkan di atas meja besar, kekar
Madu, anggur, susu;
Pemabuk menggelepar
Menyisakan tawa, busa;
Itu sebuah tanda tanya bukan?
Bagi perahu - perahu tak berpalka
Di tengah lautan berbau garam,
Berderai ombak
Berbagi sisa badai yang telah berlalu
Sambil menunggu
Pasang waktu;
Di kelopak mata nan sendu
Ketika masa masih bernyanyi
Sumbang...
Taman-taman persegi kering
Menguning karena tak diairi
Pemberian Ia,
Pada kita
Sementara,
Cawan - cawan kenikmatan
Disuguhkan di atas meja besar, kekar
Madu, anggur, susu;
Pemabuk menggelepar
Menyisakan tawa, busa;
Itu sebuah tanda tanya bukan?
Bagi perahu - perahu tak berpalka
Di tengah lautan berbau garam,
Berderai ombak
Berbagi sisa badai yang telah berlalu
Sambil menunggu
Pasang waktu;
Selasa, 13 Oktober 2009
Serdadu
Seribu
Miris berbaris
Lunglai kelaparan
Menunggu dedaunan gugur
Getar - getir merayu bumi
Peluh membasahi kalbu
Sepekat riak malam
Tapi di jembatan bunga singgah
Membawa sekeranjang buah - buah segar
Berulat namun manis
Menggoda...
Sampai camar - camar berlalu ke pantai
Di ambang petang
Meledak,
Bersimbah air merah,
Menyeruak bau amis,
Serdadu telah berperang
Miris berbaris
Lunglai kelaparan
Menunggu dedaunan gugur
Getar - getir merayu bumi
Peluh membasahi kalbu
Sepekat riak malam
Tapi di jembatan bunga singgah
Membawa sekeranjang buah - buah segar
Berulat namun manis
Menggoda...
Sampai camar - camar berlalu ke pantai
Di ambang petang
Meledak,
Bersimbah air merah,
Menyeruak bau amis,
Serdadu telah berperang
Selasa, 06 Oktober 2009
Pertanyaanku yang Pertama
Seperti Apa?
Adakah Ia insan yang hangat ruam seperti darahku?
Segar merona bak pesisir putih?
Elok menggugah layaknya telaga jernih?
Dan harum aroma langkahnya
Seperti Apa?
Adakah Ia seorang hamba yang abdi?
Bukan musafir ringkih yang mencari peristirahatan
Ketika petang berkobar nanar
Aku tak ingin apa - apa...
Hanya ingin insan pemuja
Kidung-Mu,
Isyarat-Mu,
Aku tak ingin apa - apa...
Hanya ingin berbaur dengan kerinduanku
Yang menjadikan estetis rasa ini
Nyata singgahi dunianya
Adakah Ia insan yang hangat ruam seperti darahku?
Segar merona bak pesisir putih?
Elok menggugah layaknya telaga jernih?
Dan harum aroma langkahnya
Seperti Apa?
Adakah Ia seorang hamba yang abdi?
Bukan musafir ringkih yang mencari peristirahatan
Ketika petang berkobar nanar
Aku tak ingin apa - apa...
Hanya ingin insan pemuja
Kidung-Mu,
Isyarat-Mu,
Aku tak ingin apa - apa...
Hanya ingin berbaur dengan kerinduanku
Yang menjadikan estetis rasa ini
Nyata singgahi dunianya
Larut
Getir, bersayap......
menanam ke setiap urat yang mengalir energi
Dari nurani
Melayang lalu merangkak
Benamkan puing - puing asa yang terkunci
Jauh Aku aku ke dalam egomu
Sejak pias - pias pagi menyelinap
Lalu pergi.............
Meranggas sepi..............
menanam ke setiap urat yang mengalir energi
Dari nurani
Melayang lalu merangkak
Benamkan puing - puing asa yang terkunci
Jauh Aku aku ke dalam egomu
Sejak pias - pias pagi menyelinap
Lalu pergi.............
Meranggas sepi..............
Diam
Hanya menutup suara kalbu
Hanya menyimpan kawah - kawah kesombongan
Bagaimana merajut harmoni jika apatis
Yang Kau suguhkan?
Jangan bicara tentang pujangga jika kata berhenti di bibirmu...
Hanya menyimpan kawah - kawah kesombongan
Bagaimana merajut harmoni jika apatis
Yang Kau suguhkan?
Jangan bicara tentang pujangga jika kata berhenti di bibirmu...
Selasa, 29 September 2009
Bicara tentang Wanita
Katanya Wanita adalah simbol kelembutan dan keindahan. Seseorang yang hangat seperti mentari yang selalu dibutuhkan keberadaannya dalam sebuah keluarga. Banyak yang bilang I a lemah, Ia adalah mahluk yang seharusnya tunduk dengan kaidah - kaidah yang sudah ditentukan, dan Ia diciptakan sebagai pendamping dan pengabdi. Lalu terlepas dari semua itu apa jadinya dunia tanpa seorang wanita ?
Ketulusan mereka yang tanpa pamrih dan juga pengorbanan besar yang mereka berikan seharusnya mengingatkan kita bahwa Wanita bukan sekedar sebagai mahluk Tuhan yang diciptakan untuk mampu bertahan hidup dengan tanggung jawab besar. Sebagai seorang anak yang harus patuh pada orang tuanya, sebagai seorang dara yang wajib menjaga kehormatannya, atau sebagai seorang isteri yang harus patuh dan setia kepada suaminya. Labih dari itu, keharusan seseorang menghargai seorang wanita karena mereka adalah pejuang - pejuang Tuhan yang sanggup memberikan sebuah kehidupan di atas bumi ini.
Benarkah kehidupan wanita selalu dekat dengan sebuah pertaruhan ? Jika kita memandang seorang wanita sebagai seorang Ibu, mungkin ada satu pertanyaan di benak kita. Pernah berpikir apa yang dirasakan oleh seorang Ibu ketika mereka sedang melahirkan seorang anak ? Sebagian orang berpendapat kalau melahirkan hanya sebuah rasa sakit. Ada juga yang berpendapat kalau setiap wanita pasti merasakan melahirkan seorang anak, karena itu sudah menjadi kodrat mereka. Jawaban - jawaban klise seperti itu kerap kita dengar dari siapa saja. Tapi sebetulnya mereka tidak mengerti bahwa melahirkan berarti memberikan sebuah kehidupan baru pada dunia.
Para Ibu membesarkan anak - anak mereka dengan penuh kasih sayang, membekali mereka dengan pendidikan dan membuat mereka menjadi orang - orang hebat dan bermanfaat di tengah - tengah masyarakat. Jangan lupa kalau banyak seorang Ibu yang telah melahirkan seorang Dokter, pejabat bahkan seorang Presiden.
Lalu apakah wanita telah mendapatkan keadilan yang hakiki ? Dulu lahir sebuah revolusi. Emansipasi wanita digemakan di tengah - tengah keterpurukkan zaman. Raden Ajeng Kartini mengumbar ideologinya sebagai anak bangsa yang memperjuangkan hak - hak para wanita Indonesia. Mereka (Para wanita) akhirnya dapat lega dan berbahagia karena tak perlu ragu mensejajarkan status mereka dengan kaum adam. Toh wanita kini bukanlah mahluk yang selalu tunduk pada laki - laki. Mereka bisa berkarya, meraih cita - cita, dan berhak menentukan jalan hidup mereka sendiri. Dulu sekali para wanita telah meraih kemerdekaan. Tapi apa wanita benar - benar telah merdeka ?
Kehormatan wanita di mata dunia masih dipertanyakan. Kenyataannya masih banyak orang yang memperlakukan wanita dengan tidak semestinya. Pergeseran nilai di era globalisasi dewasa ini dialaskan sebagai alat oleh sebagian oknum untuk menegasikan eksistensi martabat dan kehormatan seorang wanita di tengah masyarakat. mulai dari penganiayaan, kekerasan dalam rumah tangga, poligami tanpa aturan, kawasan prostitusi yang semakin melebar, jual beli perempuan yang semakin merebak, pemerkosaan, eksploitasi dan lain sebagainya.
Lalu hadirlah pembelaan besar - besaran. Beragam artikel, opini, film - film, diskusi, organisasi masyarakat yang mengangkat dan mengatasnamakan perempuan merebak di kalangan masyarakat global. Mereka yang sepertinya berlomba - lomba untuk menjadi pahlawan kedua setelah Kartini bermunculan. Tapi apa yang terjadi ?
Bisa dirasakan hingga kini. Wanita tetaplah wanita. Meski telah memiliki pembelaan, nasib mereka tetap tak berubah dari zaman ke zaman. Wanita tetap cenderung dianggap lemah dari pada laki - laki. Lalu bagaimana masa depan para wanita di bumi ini ? Cerakah, atau suramkah ? Bicara tentang wanita adalah sebuah perjalanan panjang yang entah kapan akan berakhir.
Ketulusan mereka yang tanpa pamrih dan juga pengorbanan besar yang mereka berikan seharusnya mengingatkan kita bahwa Wanita bukan sekedar sebagai mahluk Tuhan yang diciptakan untuk mampu bertahan hidup dengan tanggung jawab besar. Sebagai seorang anak yang harus patuh pada orang tuanya, sebagai seorang dara yang wajib menjaga kehormatannya, atau sebagai seorang isteri yang harus patuh dan setia kepada suaminya. Labih dari itu, keharusan seseorang menghargai seorang wanita karena mereka adalah pejuang - pejuang Tuhan yang sanggup memberikan sebuah kehidupan di atas bumi ini.
Benarkah kehidupan wanita selalu dekat dengan sebuah pertaruhan ? Jika kita memandang seorang wanita sebagai seorang Ibu, mungkin ada satu pertanyaan di benak kita. Pernah berpikir apa yang dirasakan oleh seorang Ibu ketika mereka sedang melahirkan seorang anak ? Sebagian orang berpendapat kalau melahirkan hanya sebuah rasa sakit. Ada juga yang berpendapat kalau setiap wanita pasti merasakan melahirkan seorang anak, karena itu sudah menjadi kodrat mereka. Jawaban - jawaban klise seperti itu kerap kita dengar dari siapa saja. Tapi sebetulnya mereka tidak mengerti bahwa melahirkan berarti memberikan sebuah kehidupan baru pada dunia.
Para Ibu membesarkan anak - anak mereka dengan penuh kasih sayang, membekali mereka dengan pendidikan dan membuat mereka menjadi orang - orang hebat dan bermanfaat di tengah - tengah masyarakat. Jangan lupa kalau banyak seorang Ibu yang telah melahirkan seorang Dokter, pejabat bahkan seorang Presiden.
Lalu apakah wanita telah mendapatkan keadilan yang hakiki ? Dulu lahir sebuah revolusi. Emansipasi wanita digemakan di tengah - tengah keterpurukkan zaman. Raden Ajeng Kartini mengumbar ideologinya sebagai anak bangsa yang memperjuangkan hak - hak para wanita Indonesia. Mereka (Para wanita) akhirnya dapat lega dan berbahagia karena tak perlu ragu mensejajarkan status mereka dengan kaum adam. Toh wanita kini bukanlah mahluk yang selalu tunduk pada laki - laki. Mereka bisa berkarya, meraih cita - cita, dan berhak menentukan jalan hidup mereka sendiri. Dulu sekali para wanita telah meraih kemerdekaan. Tapi apa wanita benar - benar telah merdeka ?
Kehormatan wanita di mata dunia masih dipertanyakan. Kenyataannya masih banyak orang yang memperlakukan wanita dengan tidak semestinya. Pergeseran nilai di era globalisasi dewasa ini dialaskan sebagai alat oleh sebagian oknum untuk menegasikan eksistensi martabat dan kehormatan seorang wanita di tengah masyarakat. mulai dari penganiayaan, kekerasan dalam rumah tangga, poligami tanpa aturan, kawasan prostitusi yang semakin melebar, jual beli perempuan yang semakin merebak, pemerkosaan, eksploitasi dan lain sebagainya.
Lalu hadirlah pembelaan besar - besaran. Beragam artikel, opini, film - film, diskusi, organisasi masyarakat yang mengangkat dan mengatasnamakan perempuan merebak di kalangan masyarakat global. Mereka yang sepertinya berlomba - lomba untuk menjadi pahlawan kedua setelah Kartini bermunculan. Tapi apa yang terjadi ?
Bisa dirasakan hingga kini. Wanita tetaplah wanita. Meski telah memiliki pembelaan, nasib mereka tetap tak berubah dari zaman ke zaman. Wanita tetap cenderung dianggap lemah dari pada laki - laki. Lalu bagaimana masa depan para wanita di bumi ini ? Cerakah, atau suramkah ? Bicara tentang wanita adalah sebuah perjalanan panjang yang entah kapan akan berakhir.
Langganan:
Postingan (Atom)