Lalu untuk apa lagi diri ini hidup ?
Bila sampai kata tak terucap
Sampai tangan tak terulur
Sampai kaki tak terpijak
Biarlah desah durja ini direbah
Tuk apalah Ia tegak
sepi beriring geliat duka
yang mengalir dari renyai pelupuk keriput
dan memang telah datang gelenyar dingin mengiris
seloroh masa yang tertunda berabad - abad
cerita tentang kelana dua hamba
merekalah kita..
dan memang telah datang pekik getir memetir
menyambar rindu pekat yang menyentak ulu hati
saat menyusun bait - bait epilog tanpa makna
sekelebat disibak, tampaklah wajah kita..
Tapi bukankah malam memang belum datang bertandang ?
Mengapa gelapnya menetak lekatnya sesak ?
memasung kata 'rindu' di ujung lidahku
menyairkan sajak pilu di depan nisanmu
Kita tinggal mengurai dengki kawan
Melihat kumbang yang dapat bercumbu dengan 'si kembang'
Melihat hujan yang dapat memeluk 'sang bumi'
Menghitung prakata yang terucap dari bibir takdir
Hingga nafas kita terhalang dinding waktu
Lalu geramnya membuat ragamu membatu
Saat kawan...
Di akhir petang ketika ku telan sisa pias senja
Di ujung fajar ketika ku raih kabut tebal
Di sana kau biarkan gerikkmu tertinggal
senyummu membekas
tawamu tergema
Di sana pula kau bicara
"Sekarang hanya tinggal sebilah waktu
Untukmu..."
Rengekan Pemimpi
Dari bibir ada kata, dari kata ada bahasa...
Jumat, 09 April 2010
Selasa, 02 Februari 2010
Sandiwara
Sendu kala itu
Berlatar tirai lusuh, kumal
Berlampu usang temaram
Kertas - kertas naskah
di genggamanmu;
Kau ciptakan sedih
Kau ciptakan tawa
Kau ciptakan murka;
Tak ada kata - kata
Dialog cerita
Hanya mimik yang bicara
Semaunya...
Di atas panggung itu
Berlakon...
Tidak menunggu tepuk riuh
Atau air mata penonton
Atau gempita suasana
Kau hanya menunggu lampu padam
Tanda cerita telah usai
Keinginanmu...
Berlatar tirai lusuh, kumal
Berlampu usang temaram
Kertas - kertas naskah
di genggamanmu;
Kau ciptakan sedih
Kau ciptakan tawa
Kau ciptakan murka;
Tak ada kata - kata
Dialog cerita
Hanya mimik yang bicara
Semaunya...
Di atas panggung itu
Berlakon...
Tidak menunggu tepuk riuh
Atau air mata penonton
Atau gempita suasana
Kau hanya menunggu lampu padam
Tanda cerita telah usai
Keinginanmu...
Senin, 26 Oktober 2009
Perbincangan Terakhir
"Selamat pagi teratai putih, Kau masih tergenang muram"
"Selamat pagi dahan pohon, daun - daun mu gugur tanpa kesan"
Di tepi sungai jernih yang sepi, sunyi. Bayi - bayi burung menangis di batang - batang meranti, nyaris tenggelam bisikan angin dari Timur ke Barat atau dari Utara ke Selatan. Cerah, segar, bergairah.
"Aku pilu..." Kelopak teratai gemetar
"Aku rindu..." Dahan berderak
"Telah ku titipkan pedihnya lewat rerumputan di sekitar kita"
"Tapi telah ku siarkan pula ke seluruh penjuru. Melalui pegunungan, air terjun , kebun - kebun, bukit barisan, para pengembara, para pemburu, para pendaki, sampai ikan - ikan kecil, kepiting dan lumba - lumba tahukah Kau?"
"Aku tahu" Kata teratai pelan.
"Tidak, tidak. Tetes embun telah membasahi tubuh kita pagi ini. Jangan tambah lagi dengan air mata mu"
Teratai menepi menjauhi riak air. Pagi mulai berlari, siang hendak menghampiri. Menyapa tanaman yang meranggas, tanah cadas, burung - burung terbang kebas.
Ah... Teratai putih tetap cantik walaupun matahari mendelik.
"Kau pucat..."
"Kau cokelat..."
"Ini rahasia alam"
"Tapi ini perbedaan"
"Kau tak terima?"
"Lalu Aku harus bagaimana? Pasrah, bijaksana?"
Hening. Gamang menyingsing. Mereka telah kehabisan kata - kata untuk saling memuja. Juga telah kehabisan tawa untuk merangkai kisah.
"Kau hanya perlu bersamaku terus seperti ini. Biar saja malam pergi meninggalkan kabut pada pagi. Biar saja Panji Asmoro bangun pergi merantau meninggalkan Dewi Sekartaji. Biar saja hujan tinggalkan dingin, Api tinggalkan panas. Aku akan tetap berdiri di sini. Akar ku kokoh, ranting - ranting ku tak akan patah"
"Maaf..." Kata teratai pelan.
"Untuk apa?"
"Untuk waktu yang berjalan lebih cepat dari pada Kita. Untuk jiwaku yang tak tahan dengan detak - detak jarum jam"
Di tepi sungai jernih yang sepi, sunyi. Bayi - bayi burung menangis di batang - batang meranti, nyaris tenggelam bisikan angin dari Timur ke Barat atau dari Utara ke Selatan. Cerah, segar, bergairah.
"Aku pilu..." Kelopak teratai gemetar
"Aku rindu..." Dahan berderak
"Telah ku titipkan pedihnya lewat rerumputan di sekitar kita"
"Tapi telah ku siarkan pula ke seluruh penjuru. Melalui pegunungan, air terjun , kebun - kebun, bukit barisan, para pengembara, para pemburu, para pendaki, sampai ikan - ikan kecil, kepiting dan lumba - lumba tahukah Kau?"
"Aku tahu" Kata teratai pelan.
"Tidak, tidak. Tetes embun telah membasahi tubuh kita pagi ini. Jangan tambah lagi dengan air mata mu"
Teratai menepi menjauhi riak air. Pagi mulai berlari, siang hendak menghampiri. Menyapa tanaman yang meranggas, tanah cadas, burung - burung terbang kebas.
Ah... Teratai putih tetap cantik walaupun matahari mendelik.
"Kau pucat..."
"Kau cokelat..."
"Ini rahasia alam"
"Tapi ini perbedaan"
"Kau tak terima?"
"Lalu Aku harus bagaimana? Pasrah, bijaksana?"
Hening. Gamang menyingsing. Mereka telah kehabisan kata - kata untuk saling memuja. Juga telah kehabisan tawa untuk merangkai kisah.
"Kau hanya perlu bersamaku terus seperti ini. Biar saja malam pergi meninggalkan kabut pada pagi. Biar saja Panji Asmoro bangun pergi merantau meninggalkan Dewi Sekartaji. Biar saja hujan tinggalkan dingin, Api tinggalkan panas. Aku akan tetap berdiri di sini. Akar ku kokoh, ranting - ranting ku tak akan patah"
"Maaf..." Kata teratai pelan.
"Untuk apa?"
"Untuk waktu yang berjalan lebih cepat dari pada Kita. Untuk jiwaku yang tak tahan dengan detak - detak jarum jam"
"Aku tak tahu perasaanmu. Sungguhpun Kau bicara dengan nada ragu"
"Karena Aku tak mampu menyampaikannya pada ilalang. Bahwa nurani kita terlalu ringkih menerima takdir dari alam"
"Kenapa ilalang?"
"Karena Ia lebih pantas. Karena Kau dan Ia tak berbeda, hidup di dunia yang sama"
Air sungai berubah. Tak setenang seperti tadi. Teratai bergerak - gerak di atas permukaan air.
"Lalu Kau akan menjauhi Ku? Menanam pilu?"
"Telah ku katakan sejak awal bukan? Awal di perbincangan kita. Aku pilu sejak dulu. Sejak Kau masih menjadi bibit. Sejak hujan pun mungkin belum pernah turun dari langit. Waktu tidak hanya bergulir seperti kata - kata. Ia juga penghukum bagi mahluk-Nya yang telah lupa"
"Inikah perpisahan?"
"Siapa yang bisa melawan kehendak Tuhan? Lirih teratai.
Dahan pohon memikirkan detik - detik kedepan Ia tak bisa menggugurkan daun - daun hijau ke pangkuan bunga teratai. Itulah kado sederhana yang bisa Ia berikan setiap hari.
Juga tak ada lagi cerita tentang lumut- lumut dan lucunya cerita tentang bayi - bayi katak. Pohon akan hidup sendiri, berteman sepi, berkawan perih.
Lalu permukaan sungai yang bergoyang jadi gelombang, terus menerus menjadi arus. Bunga teratai putih mengikutinya sampai jauh. Meninggalkan pohon kekar yang kini harapannya terkapar. Diiringi siang yang hengkang, petang membayang.
dari jauh terdengar suara teratai menangis, suka telah habis.
"Karena Aku tak mampu menyampaikannya pada ilalang. Bahwa nurani kita terlalu ringkih menerima takdir dari alam"
"Kenapa ilalang?"
"Karena Ia lebih pantas. Karena Kau dan Ia tak berbeda, hidup di dunia yang sama"
Air sungai berubah. Tak setenang seperti tadi. Teratai bergerak - gerak di atas permukaan air.
"Lalu Kau akan menjauhi Ku? Menanam pilu?"
"Telah ku katakan sejak awal bukan? Awal di perbincangan kita. Aku pilu sejak dulu. Sejak Kau masih menjadi bibit. Sejak hujan pun mungkin belum pernah turun dari langit. Waktu tidak hanya bergulir seperti kata - kata. Ia juga penghukum bagi mahluk-Nya yang telah lupa"
"Inikah perpisahan?"
"Siapa yang bisa melawan kehendak Tuhan? Lirih teratai.
Dahan pohon memikirkan detik - detik kedepan Ia tak bisa menggugurkan daun - daun hijau ke pangkuan bunga teratai. Itulah kado sederhana yang bisa Ia berikan setiap hari.
Juga tak ada lagi cerita tentang lumut- lumut dan lucunya cerita tentang bayi - bayi katak. Pohon akan hidup sendiri, berteman sepi, berkawan perih.
Lalu permukaan sungai yang bergoyang jadi gelombang, terus menerus menjadi arus. Bunga teratai putih mengikutinya sampai jauh. Meninggalkan pohon kekar yang kini harapannya terkapar. Diiringi siang yang hengkang, petang membayang.
dari jauh terdengar suara teratai menangis, suka telah habis.
Minggu, 18 Oktober 2009
उन्तुक Zirbad
Dulu yang diberikan berlapis - lapis Satin hijau
Dipintal dengan air mata peluh
Kembang - kembang pengorbanan
Mekar...
Di sana ada tangis, canda, dan marah menyala;
"Ini untuk isteri dan Anak - anakku" Katanya
Di bawah terik,
Di balik si biru telanjang yang duduk di kursinya
Menyaksikan mega - mega menari
Putih atau hitam
Ia tetap congkak
Apalagi yang lebih mengesankan daripada itu?
Zamrud yang tergelar cantik?
Air yang mengalir dari jejalan pasak - pasak?
Kita sekarang hanya menyaksikan dari puing - puing mereka
Pernah menghitung ada berapa jurang kesombongan yang menganga?
Tidak!
Jika "ia" masih tinggi didewakan
Ini hanya sepenggal doa
Untuk Zirbadku...
Dipintal dengan air mata peluh
Kembang - kembang pengorbanan
Mekar...
Di sana ada tangis, canda, dan marah menyala;
"Ini untuk isteri dan Anak - anakku" Katanya
Di bawah terik,
Di balik si biru telanjang yang duduk di kursinya
Menyaksikan mega - mega menari
Putih atau hitam
Ia tetap congkak
Apalagi yang lebih mengesankan daripada itu?
Zamrud yang tergelar cantik?
Air yang mengalir dari jejalan pasak - pasak?
Kita sekarang hanya menyaksikan dari puing - puing mereka
Pernah menghitung ada berapa jurang kesombongan yang menganga?
Tidak!
Jika "ia" masih tinggi didewakan
Ini hanya sepenggal doa
Untuk Zirbadku...
Kamis, 15 Oktober 2009
Nyanyian Perahu Tua
Gerimis menggantung
Di kelopak mata nan sendu
Ketika masa masih bernyanyi
Sumbang...
Taman-taman persegi kering
Menguning karena tak diairi
Pemberian Ia,
Pada kita
Sementara,
Cawan - cawan kenikmatan
Disuguhkan di atas meja besar, kekar
Madu, anggur, susu;
Pemabuk menggelepar
Menyisakan tawa, busa;
Itu sebuah tanda tanya bukan?
Bagi perahu - perahu tak berpalka
Di tengah lautan berbau garam,
Berderai ombak
Berbagi sisa badai yang telah berlalu
Sambil menunggu
Pasang waktu;
Di kelopak mata nan sendu
Ketika masa masih bernyanyi
Sumbang...
Taman-taman persegi kering
Menguning karena tak diairi
Pemberian Ia,
Pada kita
Sementara,
Cawan - cawan kenikmatan
Disuguhkan di atas meja besar, kekar
Madu, anggur, susu;
Pemabuk menggelepar
Menyisakan tawa, busa;
Itu sebuah tanda tanya bukan?
Bagi perahu - perahu tak berpalka
Di tengah lautan berbau garam,
Berderai ombak
Berbagi sisa badai yang telah berlalu
Sambil menunggu
Pasang waktu;
Selasa, 13 Oktober 2009
Serdadu
Seribu
Miris berbaris
Lunglai kelaparan
Menunggu dedaunan gugur
Getar - getir merayu bumi
Peluh membasahi kalbu
Sepekat riak malam
Tapi di jembatan bunga singgah
Membawa sekeranjang buah - buah segar
Berulat namun manis
Menggoda...
Sampai camar - camar berlalu ke pantai
Di ambang petang
Meledak,
Bersimbah air merah,
Menyeruak bau amis,
Serdadu telah berperang
Miris berbaris
Lunglai kelaparan
Menunggu dedaunan gugur
Getar - getir merayu bumi
Peluh membasahi kalbu
Sepekat riak malam
Tapi di jembatan bunga singgah
Membawa sekeranjang buah - buah segar
Berulat namun manis
Menggoda...
Sampai camar - camar berlalu ke pantai
Di ambang petang
Meledak,
Bersimbah air merah,
Menyeruak bau amis,
Serdadu telah berperang
Selasa, 06 Oktober 2009
Pertanyaanku yang Pertama
Seperti Apa?
Adakah Ia insan yang hangat ruam seperti darahku?
Segar merona bak pesisir putih?
Elok menggugah layaknya telaga jernih?
Dan harum aroma langkahnya
Seperti Apa?
Adakah Ia seorang hamba yang abdi?
Bukan musafir ringkih yang mencari peristirahatan
Ketika petang berkobar nanar
Aku tak ingin apa - apa...
Hanya ingin insan pemuja
Kidung-Mu,
Isyarat-Mu,
Aku tak ingin apa - apa...
Hanya ingin berbaur dengan kerinduanku
Yang menjadikan estetis rasa ini
Nyata singgahi dunianya
Adakah Ia insan yang hangat ruam seperti darahku?
Segar merona bak pesisir putih?
Elok menggugah layaknya telaga jernih?
Dan harum aroma langkahnya
Seperti Apa?
Adakah Ia seorang hamba yang abdi?
Bukan musafir ringkih yang mencari peristirahatan
Ketika petang berkobar nanar
Aku tak ingin apa - apa...
Hanya ingin insan pemuja
Kidung-Mu,
Isyarat-Mu,
Aku tak ingin apa - apa...
Hanya ingin berbaur dengan kerinduanku
Yang menjadikan estetis rasa ini
Nyata singgahi dunianya
Langganan:
Entri (Atom)